Langsung ke konten utama

02 - BANDUNG MALAM INI

 

Cuaca bandung setelah hujan menjadi favoritku akhir-akhir ini. Jalanan aspal yang masih basah karena hujan mengguyur Bandung sore itu mengeluarkan aroma khas. Petrichor Namanya. Aku berjalan menyusuri gang kecil dari kost menuju toserba terdekat untuk membeli kebutuhan yang sudah hampir habis. Di sisi jalan yang ku lewati terlihat sekumpulan pemuda yang tengah bermain dengan ponsel pintarnya, sekilas refleks konyolku tampil;aku berpikir untuk berbalik dan mencari jalan lain. Di seberang sana, terlihat dua pemuda lain dengan kaki lebarnya menyebrang kearahku atau lebih tepatnya menghampiri abang-abang penjual siomay dan pelanggannya di depanku; masing-masing dari mereka menenteng kendang dan gitar. Tak lama kemudian petikan gitar itu berbunyi disambut dengan ketukan kendang dengan tempo yang pas, suara yang dihasilkan pun tidak begitu buruk. Ternyata keluar kost setelah seharian berdiam diri tidak buruk juga.

Kakiku berjalan memasuki toserba, wangi yang khas mulai memasuki indra penciumanku. Ku pilih keranjang tenteng saat ini, karena kebutuhannya pun tidak begitu banyak. Setelah lama berkeliling, aku sadar seharusnya aku tidak keluar di hari weekend seperti ini; ternyata banyak pengunjung dan itu lumayan pengap.

Setelah semuanya selesai, aku bergegas menuju kasir untuk melakukan pembayaran, ternyata diluar hujan. Ah tau gitu tadi aku bawa payungnya. Pendeknya pikiranku mengira, setelah hujannya reda kemungkinan untuk hujan Kembali tipis. Ternyata aku sangat keliru, saat ini hujannya lebat.

Aku dan semua pengunjung-yang tidak membawa payung maupun jas hujan- yang hendak pulang pun terjebak. Bersama pengunjung lain aku mencari tempat yang nyaman untuk menunggu hujan berhenti, sayangnya aku tidak kebagian tempat duduk. Untungnya kutemukan deretan anak tangga menuju lantai dua toserba ini di samping pintu masuk, lumayan.

Saat menunggu, ekor mataku tak sengaja menangkap seorang perempuan yang kurasa umurnya di bawahku tengah memanggil-manggil ayahnya untuk mendekat kearahnya. Dengan suara lembut ayahnya menghampiri gadis tersebut. Aku kembali memainkan ponsel utuk mengusir rasa bosan. Mataku berkeliling lagi mengalihkan mataku dari ponsel yang lama-lama membuat sakit mata. Kali ini mataku menangkap moment indah yang jujur membuat aku dan mungkin sebagian orang iri. Kepala gadis itu di senderkannya ke bahu ayahnya, ibunya yang turut disampingnya sibuk meminta pendapat keduanya tentang, haruskah mereka membeli jas hujan. Sudut bibirku melebar. Keluarga yang harmonis.  Beberapa saat aku iri tidak bisa seperti itu.  

Malam hampir larut, sementara hujan tak kunjung reda yang ada kian membesar. Setelah menunggu beberapa saat, aku mengambil kantong belanjaan dan bergegas meninggalkan area toserba, menembus rintik hujan yang memang tidak begitu lebat, meski cukup membuat baju yang ku pakai sedikit basah. Jika kelaman disana aku tidak akan bisa pulang, ditambah perutku sudah keroncongan dari sore belum diisi apapun.

Entah kenapa hujannya membawa syahdu, rintiknya yang berkilau tersorot lampu jalan terlihat indah. Kepalaku menengadah ke langit menyambut satu persatu air hujan membasahi wajahku, damai untuk rasa syukurku hari ini. Bandung memang selalu memiliki ceritanya tersendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 - diri (keterbatasan fungsional)

Menurut google, seorang bergolongan darah AB merupakan golongan darah yang unik dan langka; selain karena populasinya yang hanya 4% rhesus positif dan 1% rhesus negatif, namun juga menjadi penerima sel darah merah secara universal karena adanya antigen A dan B di tubuhnya (menerima dari semua golongan darah dalam kasusku yang ber rhesus positif).  pemilik golongan darah ini juga secara karakteristik umum memiliki pribadi yang pendiam, tenang, rasional, sensitif, mudah berempati namun cenderung pelupa. disebutkan juga bahwa mereka cenderung memiliki resiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, pembekuan darah dan gangguan memori/ fungsi otak.  berkali-kali ku pandangi:  gangguan memori/fungsi otak.  kenapa bisa? kenapa harus begitu? itu menyakitkan dan sangat menohok. ' pantas saja' fikirku berulang.  banyaknya rangkaian kejadian dari yang begitu penting hingga sangat sepele yang tanpa sadar memengaruhi aktivitasku sebagai manusia yang mengharuskan bersosial...
"untuk waktu bagai penyiksaan" untuk waktu bagai penyiksaan entah hukum atau rayuan untuk waktu yang dilewati dengan rumbai air mata bersabar adalah pijakan selain hujatan untuk setiap detail kebijakan yang dianggap remeh mereka bahkan tidak tahu narasi yang sebenarnya untuk setiap argumentasi yang berujung penistaan terkutuklah jiwa-jiwa idealis itu yang berlumur dengki  kenestapaan   bandung, 21/03/2023

12 - 24

  24 hanyalah angka 24 hanyalah awal setidaknya, mantra itulah yang terus kuucapkan; entah itu bujukan penenang ataukah memang obat penenang? namun, berangkat dari pola pikir yang sederhana namun ego yang digendongnya ini cukup memberatkan setiap keputusan yang akan diambil.  sahabat yang telah menemukan belahan jiwanya, menyambut jiwa baru, merawat yang baru bertumbuh, yang menghadapi mimpi buruknya, yang bertumbuh, dengan singgasananya, kami dengan finansial unstablenya, hingga mereka yang tua renta itu dengan keteternya. tidak termasuk dengan mereka-mereka yang lainnya. perasaan berdebar yang membawa gelombang aneh: lelah, dinantikan namun juga takut.  24 hanyalah angka masih banyak yang masih merangkak, meski banyak yang sudah di puncak. namun, tidak berarti juga sebuah keterlambatan, hambatan maupun ajang perlombaan. 24 hanyalah angka angka yang menjadi pecutan kestabilan berpikir yang memang seharusnya sebelum 24 itu terukir. ckrng, 4-11-2025