Langsung ke konten utama

03 - Mindset Keliru

25-03-2024



Berada di posisi sekarang yang bisa berlaku normal pada umumnya; say tolong, maaf dan terima kasih, cara menjalin komunikasi yang baik, tidak memaksakan keadaan, mengurangi sifat kekanakan, mengurangi feeling judging dan overthingking tentang segala hal. Itu semua dilalui tidak dalam waktu yang sebentar. Butuh pengorbanan dan hal-hal sulit lainnya yang dilalui sendiri. 

Tidak jarang aku pun mengeluh cape dan merasa apa yang kuperjuangkan sia-sia dan bahkan tidak ada yang peduli untuk setiap progres kecil yang kulakukan, selain diri sendiri. Mungkin benar aku memang mengharapkan validasi. Lebih penting dari itu, aku mengharapkan sedikitnya mereka tahu perubahan kecilku; bahwa aku bisa berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin dan aku belajar memperbaiki kesalahanku dari hari kemarin.Tentunya setiap manusia memiliki warna yang berbeda-beda. Oleh sebab itu akupun tidak berharap berlebihan.

Dan dalam perjalnaan itu tak jarang aku sering melakukan kesalahan, seperti halnya hari ini. Aku bena-benar buruk menjadi seorang teman dekat yang masih tidak peka pada keadaan sekitar, terutama ketika mereka ternyata tengah mengalami kesulitan; dalam contoh kali ini mengalami sakit. Saat ada teman dekatku yaang membutuhkanku tanpa mereka mengatakan padaku seharusnya akulah yang peka terlebih dahulu. Tetapi sayangnya aku tidak. Mindset tuaku yang masih berjalan adalah, 'ok, kamu baik-baik aja. Dan kamu masih bisa melakukannya sendirian.'That's the big problems. Seharusnya aku tidak sembarangan membawa mindser itu ke khalayak umum.

Aku tidak menyalahkan pola asuh kedua orangtuaku yang menuntutku untuk selalu mandiri dalam hal apapun, termasuk ketika aku tengah mengalami sakit. Setengah masa kecil hingga dewasaku lebih sering dihabiskan tanpa kehadiran mama, dan pola asuh yang diberikan bapa sebagai seorang laki-laki yang jarang terlibat percakapan panjang dengan anak semata wayangnya pun tidak banyak membantu improve kepekaanku maupun cara berkomunikasiku. 

Hanya saja aku merasa kecewa pada diriku sendiri yang ternyata hingga saat ini; setelah begitu panjangnya pengalaman yang dilalui aku masih gagal belajar dari kesalahan dan belum menjadi teman yang baik. Seharusnya aku lebih banyak belajar, seharusnya aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik bukan malah stuck. Meskipun selalu sulit mengekspresikan apa yang ku rasakan, seharusnya aku lebih berkembang dalam hal kepedulian. Seharusnya aku lebih banyak belajar dan tidak terjebak dengan pola asuh yang belum baik. 

Dan aku masih akan terus belajar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 - diri (keterbatasan fungsional)

Menurut google, seorang bergolongan darah AB merupakan golongan darah yang unik dan langka; selain karena populasinya yang hanya 4% rhesus positif dan 1% rhesus negatif, namun juga menjadi penerima sel darah merah secara universal karena adanya antigen A dan B di tubuhnya (menerima dari semua golongan darah dalam kasusku yang ber rhesus positif).  pemilik golongan darah ini juga secara karakteristik umum memiliki pribadi yang pendiam, tenang, rasional, sensitif, mudah berempati namun cenderung pelupa. disebutkan juga bahwa mereka cenderung memiliki resiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, pembekuan darah dan gangguan memori/ fungsi otak.  berkali-kali ku pandangi:  gangguan memori/fungsi otak.  kenapa bisa? kenapa harus begitu? itu menyakitkan dan sangat menohok. ' pantas saja' fikirku berulang.  banyaknya rangkaian kejadian dari yang begitu penting hingga sangat sepele yang tanpa sadar memengaruhi aktivitasku sebagai manusia yang mengharuskan bersosial...
"untuk waktu bagai penyiksaan" untuk waktu bagai penyiksaan entah hukum atau rayuan untuk waktu yang dilewati dengan rumbai air mata bersabar adalah pijakan selain hujatan untuk setiap detail kebijakan yang dianggap remeh mereka bahkan tidak tahu narasi yang sebenarnya untuk setiap argumentasi yang berujung penistaan terkutuklah jiwa-jiwa idealis itu yang berlumur dengki  kenestapaan   bandung, 21/03/2023

12 - 24

  24 hanyalah angka 24 hanyalah awal setidaknya, mantra itulah yang terus kuucapkan; entah itu bujukan penenang ataukah memang obat penenang? namun, berangkat dari pola pikir yang sederhana namun ego yang digendongnya ini cukup memberatkan setiap keputusan yang akan diambil.  sahabat yang telah menemukan belahan jiwanya, menyambut jiwa baru, merawat yang baru bertumbuh, yang menghadapi mimpi buruknya, yang bertumbuh, dengan singgasananya, kami dengan finansial unstablenya, hingga mereka yang tua renta itu dengan keteternya. tidak termasuk dengan mereka-mereka yang lainnya. perasaan berdebar yang membawa gelombang aneh: lelah, dinantikan namun juga takut.  24 hanyalah angka masih banyak yang masih merangkak, meski banyak yang sudah di puncak. namun, tidak berarti juga sebuah keterlambatan, hambatan maupun ajang perlombaan. 24 hanyalah angka angka yang menjadi pecutan kestabilan berpikir yang memang seharusnya sebelum 24 itu terukir. ckrng, 4-11-2025