Langsung ke konten utama

04 - Pengangguran Bercerita

 


Waktu bener-bener cepet banget pergi, sampe-sampe baru sadar Januari itu udah 7 bulan yang lalu. Itu artinya aku masih menganggur, hmmm lama juga.

Berbulan-bulan ini aku sadar jalan hidupku bener-bener bak kapal pecah. Warning dalam diriku sudah berkali-kali nyala, bahkan sudah menunjukan melaui reaksi tubuhku yang jika dilihat dari luar memang bisa di katakan masih sehat.

Menjadi seorang pengangguran di usia 23 tahun dan tidak memiliki skill apapun ternyata ngeri-ngeri sedap cuy. Nyari sampingan susah, skill gak punya, kebutuhan semakin banyak dan kalo minta ke orangtua pun udah malu. Gak heran ibuku kecewa.

Ternyata banyak plan buat masa depan tanpa dibrengi dengan jalan yang benar dan dorongan yang luar biasa kuat gak membuat aku keluar dari zona nyaman; Cuma berputar-putar di tempat; seperti hamster dan rumahnya. Banyak hal yang ku rencanakan dari yang mudah hingga yang besar. Ternyata semua hanya rencana jika tanpa ada tindakan, minimal tindakan kecil yang setiap harinya selalu rutin di lakukan. Dan aku masih stuck dengan pikiran buntuku karena selalu kurang motivasi hidup. Memiliki tujuan sebesar apapun selama motivasi hidup kurang dari batas minimal, akan sulit juga.  

Mantra yang setiap saat sering aku rapalkan pun tidak mempan. Aku melakukan semua ini untuk kedua orangtuaku, benar. Sejak dulu aku tidak tahu hidupku mau dibawa kemana, karena aku selau takut dengan pilihan yang kuambil, takut salah memilih, takut gagal, takut membuat kecewa, takut tidak bisa, takut tidka bertanggung jawab dan takut-takut yag lainnya.

Sayangnya tanpa aku sadari semua ketakutan itu membuat jalan hidupku semakin susah dan aku semkain sulit mengambil keputusan. Termasuk keputusan kecil sekalipun. Aku terbiasa di arahkan karena banyaknya ketakutan itu. Dan ternyata itu salah. Sangat-sangat salah. Dan Ketika aku memikirkan kesalahan-kesalahan itu, alam bawah sadarku berkata tidak sepenhnya salahku semua, ada keterlibatan kedua orang tuaku juga di dalamnya, terutama bapak yang merelakan mama pergi dari sisi hidupku akibatnya masa pertumbuhanku tidak banyak dihabiskan dengannya.

Di sisi lain aku tidak mau terus mengeluh akan kekecewaanku pada diriku sendiri dan mereka. Aku berpikir setidak normal apapun dulu aku, di masa depan aku bisa hdiup nomal seperti kebanyakana anak lainnya. Aku bisa bangkit, aku bisa sembuh, aku bisa termotivasi lagi.

Ternyata, 2022 menjadi hal yang mengerikan. Nenek meninggal. Salah satu kunci motivasiku selain mama. Beliau yang selalu ada Ketika aku butuh kasih sayang seorang ibu. Salahnya aku, aku menggantungkan kebahagaiaan hidupku dan motivasi terbesarku ke orang-orang ynag berpotensi meninggalkan ku (pergi selamanya atau pergi).

Menyalahkan Tuhan pun bukan perkara baik. Aku sangat tahu Tuhan selalu memeberikan alur hidup yang tidak mudah ditebak dan memilki ending yang luar biasa indah. Hanya saja dalam prosesnya hampir gila. Bukan, bukan karena faktor dari laur saja, tapi karena faktor dalam diriku sendiri dan orang rumah sebagai tempat pertama aku belajar tentang isi dunia.

Jika orang bertanya apa ketakutan terbesarku, dengan senang hati aku jawab adalah menghadapi diriku sendiri.

Orang pernah bilang salah satu menghadapi diri kita sendiri adalah pertamanya memaafkan kedua orangtua atas kesalahan pola asuh mereka dalam membesarkan kita. Karena bagaimanapun mereka baru pertama kali menjadi orangtua, tidak ada yang mengajarkan mereka sebelumnya. Selain itu kita juga harus memaafkan diri sendiri. Dua hal itu cukup berat buatku.

Dan ketakutanku masih berlanjut; entah sampai kapan. 


ada satu kalimat yang benar-benar menamparku disini:


"Berhentilah berfikir berlebihan, sepotong besi rusak karena karatnya sendiri. Jangan biarkan dirimu rusak karena pikiranmu sendiri. Tidak usah terlalu cemas, karena cerita hidupmu telah ditulis oleh penulis skenario terbaik."

-Habib Umar Bin Hafidz-

   

Bandung, 12-07-2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 - diri (keterbatasan fungsional)

Menurut google, seorang bergolongan darah AB merupakan golongan darah yang unik dan langka; selain karena populasinya yang hanya 4% rhesus positif dan 1% rhesus negatif, namun juga menjadi penerima sel darah merah secara universal karena adanya antigen A dan B di tubuhnya (menerima dari semua golongan darah dalam kasusku yang ber rhesus positif).  pemilik golongan darah ini juga secara karakteristik umum memiliki pribadi yang pendiam, tenang, rasional, sensitif, mudah berempati namun cenderung pelupa. disebutkan juga bahwa mereka cenderung memiliki resiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, pembekuan darah dan gangguan memori/ fungsi otak.  berkali-kali ku pandangi:  gangguan memori/fungsi otak.  kenapa bisa? kenapa harus begitu? itu menyakitkan dan sangat menohok. ' pantas saja' fikirku berulang.  banyaknya rangkaian kejadian dari yang begitu penting hingga sangat sepele yang tanpa sadar memengaruhi aktivitasku sebagai manusia yang mengharuskan bersosial...
"untuk waktu bagai penyiksaan" untuk waktu bagai penyiksaan entah hukum atau rayuan untuk waktu yang dilewati dengan rumbai air mata bersabar adalah pijakan selain hujatan untuk setiap detail kebijakan yang dianggap remeh mereka bahkan tidak tahu narasi yang sebenarnya untuk setiap argumentasi yang berujung penistaan terkutuklah jiwa-jiwa idealis itu yang berlumur dengki  kenestapaan   bandung, 21/03/2023

12 - 24

  24 hanyalah angka 24 hanyalah awal setidaknya, mantra itulah yang terus kuucapkan; entah itu bujukan penenang ataukah memang obat penenang? namun, berangkat dari pola pikir yang sederhana namun ego yang digendongnya ini cukup memberatkan setiap keputusan yang akan diambil.  sahabat yang telah menemukan belahan jiwanya, menyambut jiwa baru, merawat yang baru bertumbuh, yang menghadapi mimpi buruknya, yang bertumbuh, dengan singgasananya, kami dengan finansial unstablenya, hingga mereka yang tua renta itu dengan keteternya. tidak termasuk dengan mereka-mereka yang lainnya. perasaan berdebar yang membawa gelombang aneh: lelah, dinantikan namun juga takut.  24 hanyalah angka masih banyak yang masih merangkak, meski banyak yang sudah di puncak. namun, tidak berarti juga sebuah keterlambatan, hambatan maupun ajang perlombaan. 24 hanyalah angka angka yang menjadi pecutan kestabilan berpikir yang memang seharusnya sebelum 24 itu terukir. ckrng, 4-11-2025