Menurut google, seorang bergolongan darah AB merupakan golongan darah yang unik dan langka; selain karena populasinya yang hanya 4% rhesus positif dan 1% rhesus negatif, namun juga menjadi penerima sel darah merah secara universal karena adanya antigen A dan B di tubuhnya (menerima dari semua golongan darah dalam kasusku yang ber rhesus positif). pemilik golongan darah ini juga secara karakteristik umum memiliki pribadi yang pendiam, tenang, rasional, sensitif, mudah berempati namun cenderung pelupa. disebutkan juga bahwa mereka cenderung memiliki resiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, pembekuan darah dan gangguan memori/ fungsi otak.
berkali-kali ku pandangi: gangguan memori/fungsi otak.
kenapa bisa? kenapa harus begitu? itu menyakitkan dan sangat menohok. 'pantas saja' fikirku berulang.
banyaknya rangkaian kejadian dari yang begitu penting hingga sangat sepele yang tanpa sadar memengaruhi aktivitasku sebagai manusia yang mengharuskan bersosial itu terganggu. itu fitrah. namun, dengan kondisi fitrah diriku dengan kekurangan yang bisa berdampak besar itu cukup memberatkan. meskipun sebagian populasi menyebut itu merupakan hal yang manusiawi namun sebagian lagi menghujami perilaku itu sebagai bentuk tak saling memahami.
belasan jam yang lalu kejadian itu menghampiriku. seharusnya aku lebih pengertian dengan keterbatasan itu, seharusnya kesalku cepat tergantikan dengan ingatan penting poin utama itu, sehingga dengan begitu tidak akan ada kesalahpahaman emosi yang di derita dan terus di pertanyakan; kenapa sih dia begitu? seburuk itukah masakanku?
ya, seharusnya beberapa kejadian penting perihal itu menyangkut di sela-sela emosi jengkelku. namun seperti yang sudah diduga, hal itu tak terbaca di jaringan sel otak ku. informasi itu hilang atau entah mungkin tertutupi informasi lain, atau mungkin juga jaringan antar selnya pun bahkan tidak terkoneksi dengan baik. hingga belasan jam kemudian, sel-sel itu tersambung dan menghantarkan aliran listriknya ke setiap jaringan-jaringan rumitnya dan meledakan informasi yang sudah basi.
cukup menyebalkan namun juga mengasihani; haruskah aku proses kembali rasa kesal, malu dan tak berdaya itu menjadi sebuah bahan bakar untuk peluncuran roket emosi dan rating kepekaan berikutnya? atau lebih baik aku kembali menarik diri dari kehidupan sosial yang melelahkan dan minim hasilnya itu? cukup menyebalkan!
tentu saja kupilih opsi pertama. alasannya? mungkin karena sebuah alasan klasik; bahwa hidup di dunia fana yang sudah memasuki abad gila ini hanya sekali seumur hidup; dengan waktu terisa yang bisa dimanfaatkan dengan sebisa dan sebaik mungkin, dengan keterbatasan fungsional diri yang dimiliki, selagi kesempatan itu ada, tidak ada opsi lain selain tetap maju.
mungkin.
cikarang, 29 Januari 2026

Komentar
Posting Komentar