30 April 2025,
menjadi puncak tamparan kerasku kini tentang bodohnya pilihanku yang ku buat di usia 23, satu tahun lalu tanpa skill yang mumpuni dan kurangnya koneksi dengan orang-orang hebat. bodoh dan teraancam membusuk.
akhir agustus 2024, wawancara sekianku dengan sebuah rumah sakit swasta di kota kembang, tentunya dengan bantuan salah satu koneksi ku dalam tahap seleksinya, hanya tahap pertama sdelebihnya tentu saja tergantung dewi fortunaku yang berjalan. dengan percaya dirinya ku lantangkan mencari pekerjaan itu sangat mudah di tanah air ini dengan catatan kita tidka memilih-milih pekerjaan yang di mau ucapku dengan kepercayaan diri yang tinggi di depan direktur rumah sakit tersebut saat sesi wawancara berlangsung. BODOH! banyak hal yang ku lupakan, bahkan hal sepelee seperti halnya jenis pekerjaan itu sendiri. jenis pekerjaan tentu banyak, namun kembali lagi bukannya kita harus tetap memiliah dan mimilih perkrjaan yang sesuai dengan skill yang kita miliki dan yang jika dlihat dari sudut pandang spiritualitas, bukankah sebaiknya pekerjaan itu tidak keluar dari ke'halal'annya. asu. fyi, ku tolak perkerjaan itu meski lolos seleksi. see() bodoh!
tidak berhenti disana, kebodohanku kian berlanjut. tepatnya seleksi CPNS 2024. dengan kebodohan yang masih melekat di nama tengahku, berangkatlah diri ini ke ibu kota tanpa siapapun hanya bermodalkan transportasi ilegal (travel) dan tekad siap berjuang dan bersaing dengan jutaan peserta lainnya di tanah air yang hukumnya tajam kebawah tumpul keatas ini. ketakjuban akan gedung-gedung tinggi itu hanya memanjakanku sesaat, selebihnya tergantikan dengan susunan-susunan rencana mengakhiri hidup seperti loncat dari balik pintu mobil yang pada sata itu masih melaju menuju arena pertempuran atau tiba-tiba bisa berubah menjadi udara dan keluar bebas saat jendela mobil itu di buka kan sebagai gantinya harus bertarung dengan udara ibu kota yang sangat gersang dan memaikan bagi paru-paru. sayangnya kenyaat di depan mata tidak bisa dihindari. jiwa pengecutku beruntungnya masih memelukku erat dan khayalan unutk menjad udara itu hilang bersaan dengan mobil yang kutumpangi sampai di gerbang 'neraka' yang kubuat seagai versi dadakanku. gerbang itu berdiri dengan gagah seakan mngejek kebodohanku. calon-calon pesiangku terduduk dengan rapi dengan tekad 'membunuh' musuh-musuhnya dan maju ke pertempuran berikutnya. si bodoh ini memasuki rena pertarungan, duduk gelisah dengan takdir menyakitkan yang sudah diketahuinya. kepalanya terus memutarkan skenario-skenario bercabang untuk pembelaannya; mindset yang terus di kuras untuk mencoba mencari jalan positif dan konsep spritual yang ia pegang teguh dengan keyakinan penuh jika Tuhannya akan membantu kobodohannya. satu persatu peserta di arena itu maju ke pertempuran berikutnya dari begitu banyaknya tinggallah si bodoh itu, masih duduk termangu memertanyakan keberadaan tidak pentingnya di arena itu. ia putar bolak balik pun otakknya tidak bekerjasama untuk membalik keadaan dan membela keadaannya, petugas arena pun tidak bisa membatunbanyaak karena kesalahan fatal dan kebodohannku yang di combo semakin fatal dann.... apa bisa ku sebuet kebodohan diatas kebodohan dan diatasnya lagi kebodohan yang bertubi-tubi. helaan nafas ku buang untuk mengurangi sesak di dada yang dari pagi hanya diisi dengan sosis kemasan yang dibeli di minimarket saat di perjalanan. kaki itu berputar, dengan berat melangkah keluar dari arena, kosong dan bodoh. jangankan perang, alat tempur saja tidak kubawa, mau jadi apa aku disana() ayam geprek() tempe orek() ban tubkles (). ottakku berputar dan berhenti di satu kalimat: Ketetapan Tuhan. entah dan sudahlah. haruskah sejauh itu untuk membuatku sadar akan ketetapan itu (). sudahlah mau bagaiamna lagi() love faith, kan() sialnya itu hanyalaha permulaaan. yaudahsih.
TBC
Komentar
Posting Komentar