Langsung ke konten utama

11 - ulat besi



Di awali dengan gagal interview, putus asa karena gak ada harapan, saat putus asa pun ternyata ditolak ngelamar kerja jadi tukang cuci piring di coffeshop; jadi tukang cuci piring pun mereka gak mau nerima anak ini, putus asa dan gak tau harus ngapain, kebingungan, ketakutan, cuma diri sendiri yg bisa diandelin dan Tuhannya. Berkali-kali mengingatkan, bahwa pertolongan Tuhan itu nyata, berkali-kali meyakinkan diri bahwa takdir Tuhan itu terbaik dan yang di ridhai. Satu iya, dua iya, tiga emang iya? Empat hancur; sekedar bangkit berdiri pun berat, Lima lebur; tidak tahu, tidak berbentuk. 

Tibanya aku harus kembali ke kampung halaman. Sebelum ayam tetangga kosan temanku bersuara, dengan tergopoh-gopoh aku berbenah, menyiapkan semua keperluan untuk dibawa pulang. Ku kira akan berjalan mulus, sayang oh sayang kereta pun tak mau menungguku. Seberapa berusaha pun aku mengejar jika yang di kejar tida sudi, mau bagaimana lagi? Satu detik itu ku saksikan ia pergi; melaju dengan angkuh, mengolok harap mataku yang mulai digenangi air putus asa; aku tidak diizinkan berada di dalamnya. 

Kereta berikutnya kunantikan dengan harapan kosong; memangnya akan sempat ke stasiun berikunya? Kereta ini pun melaju, ditemani Swastamita yang pagi ini ku benci kehadirannya, padahal ia tak bersalah. Tetibanya di persimpangan, rupanya si kuning cipatat tidak akan sempat membawaku ke stasiun berikutnya yang hanya tinggal menyisakan waktu 35 menit; perjalanannya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Otak ini berputar, berbagai skenario coba ku luruskan benang merahnya. jalanku buntu, harapku putus, tidak ada yg bisa membantuku. Tetiba aku teringat: hanya Tuhan sebaik2nya penolong; hasbiyallah wanikmal wakil, astagfirukawaatubuillaih. Pikiran buntu itu bekerja; katanya masih ada lagi si kuning yang ke cipatat, langsung ke stasiun tanpa ngetem. saat kesempatan itu datang, benar saja si kuning itu menghampiriku, membawa keputusasaanku menuju stasiun yang ku yakini 100% sudah sepi. 

benar saja. sepi, seakan tak berpenghuni. hanya berisik roda koperku yang terdengar di sepanjang jalan menuju stasiun. ku dudukan diriku di pintu luar stasiun setelah sebelumnya berbasa basi dengan petugas KAI; menanyakan jadwal berikutnya; yaang sudah ku tahu ada di 5 jam berikutnya.

dan disinilah aku, di kursi luar stasiun. menunggu si ulat besi raksasa itu beroperasi. seharian akan ku habiskan di sudut kursi ini, dengan apapun yang bisa kulakukan untuk membunuh 5 jam waktu tunggu berikutnya. Namun tidak lagi dengan rumbai air mata, tidak lagi dengan amarah di dada, tidak lagi dengan takut karena kebingungan; mungkin ikhlas? atau sudah menjadi ampas? 


Bandung Barat, stasiun cipatat, 18 Mei 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 - diri (keterbatasan fungsional)

Menurut google, seorang bergolongan darah AB merupakan golongan darah yang unik dan langka; selain karena populasinya yang hanya 4% rhesus positif dan 1% rhesus negatif, namun juga menjadi penerima sel darah merah secara universal karena adanya antigen A dan B di tubuhnya (menerima dari semua golongan darah dalam kasusku yang ber rhesus positif).  pemilik golongan darah ini juga secara karakteristik umum memiliki pribadi yang pendiam, tenang, rasional, sensitif, mudah berempati namun cenderung pelupa. disebutkan juga bahwa mereka cenderung memiliki resiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, pembekuan darah dan gangguan memori/ fungsi otak.  berkali-kali ku pandangi:  gangguan memori/fungsi otak.  kenapa bisa? kenapa harus begitu? itu menyakitkan dan sangat menohok. ' pantas saja' fikirku berulang.  banyaknya rangkaian kejadian dari yang begitu penting hingga sangat sepele yang tanpa sadar memengaruhi aktivitasku sebagai manusia yang mengharuskan bersosial...
"untuk waktu bagai penyiksaan" untuk waktu bagai penyiksaan entah hukum atau rayuan untuk waktu yang dilewati dengan rumbai air mata bersabar adalah pijakan selain hujatan untuk setiap detail kebijakan yang dianggap remeh mereka bahkan tidak tahu narasi yang sebenarnya untuk setiap argumentasi yang berujung penistaan terkutuklah jiwa-jiwa idealis itu yang berlumur dengki  kenestapaan   bandung, 21/03/2023

12 - 24

  24 hanyalah angka 24 hanyalah awal setidaknya, mantra itulah yang terus kuucapkan; entah itu bujukan penenang ataukah memang obat penenang? namun, berangkat dari pola pikir yang sederhana namun ego yang digendongnya ini cukup memberatkan setiap keputusan yang akan diambil.  sahabat yang telah menemukan belahan jiwanya, menyambut jiwa baru, merawat yang baru bertumbuh, yang menghadapi mimpi buruknya, yang bertumbuh, dengan singgasananya, kami dengan finansial unstablenya, hingga mereka yang tua renta itu dengan keteternya. tidak termasuk dengan mereka-mereka yang lainnya. perasaan berdebar yang membawa gelombang aneh: lelah, dinantikan namun juga takut.  24 hanyalah angka masih banyak yang masih merangkak, meski banyak yang sudah di puncak. namun, tidak berarti juga sebuah keterlambatan, hambatan maupun ajang perlombaan. 24 hanyalah angka angka yang menjadi pecutan kestabilan berpikir yang memang seharusnya sebelum 24 itu terukir. ckrng, 4-11-2025