Langsung ke konten utama

14 - mama

 meskipun di dalam kepalaku sangat berisik dan banyak kalimat mengantre minta segera di alokasikan; cepet banget. 

suara tegasnya yang selalu ceria dua hari belakangan terdengar getir dan frustasi; mama cape. selain mengurus pekerjaan rumah: memasak, mencuci baju-baju, merawat rumah, mengurus Kaori dan anak-anaknya kucingku-karena mama gak tega buang-mamah juga harus mengurus abah-mertuanya-yang sudah sakit-sakitan dengan sistem pencernaan dan sistem metabolismenya abah yang sudah tidak berfungsi sebaik dulu. pekerjaan mama bertambah, ia harus mencuci baju-baju abah yang kebanyakan selalu terkena pipis dan tak jarang kotoran pup di baju, celana bahkan sarung. jika sudah seperti itu, mama akan menghubungiku menangis sejadi-jadinya karena hanya itu yang bisa ia lakukan dengan aku yang hanya bisa mendengarkan. 

nenekku-istrinya abah-yang selalu di perlakukan semena-mena sama abah sudah pulang lebih dulu 3 tahun yang lalu. sebab itulah sekarang semuanya, literally SEMUANYA mamaku yang mengerjakan setelah sebelumnya aku-sekarang aku kerja di kota lain-tentu saja mama setres. terutama musim panen; dengan sawah-meski tidak berhektar-sebanyak itu ia kewalahan karena harus sendirian. meskipun ada tetangga yang membantu dan sebagiannya 'melikur' mama tetap kecapean karena itu bukan perkerjaan mudah, apalagi mama sendirian, biasanya dengan nenek. 

rasa bersalah menyelimuti hari-hariku; seandainya pekerjaanku tidak jauh aku bisa bantu mama di hari liburku meski 1 hari setengah, andai aja gajiku lebih besar mama tidak harus turun langsung menanam benih-benih padi itu biar orang lain yang kerjakan, andai aku disana bersamanya setidaknya aku bisa membantunya memasak atau memijit kakinya yang sakit dan pegal-pegal itu. andai, andai, andai dan semua andai terus berulang di kepalaku. kenyataannya aku hanya bisa duduk menghabiskan hari libur kerjaku dengan masak untukku sendiri, makan untukku sendiri dan tiduran tanpa rasa sakit dan pegal di kakiku. 

rasanya minta maaf pun tidak mengubah keadaan dan mama pun tidak mengharapkan permintaan maaf karena mama pun tidak bisa berbuat apapun. entahlah ceritanya jika aku dulu jadi punya adik? entahlah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 - diri (keterbatasan fungsional)

Menurut google, seorang bergolongan darah AB merupakan golongan darah yang unik dan langka; selain karena populasinya yang hanya 4% rhesus positif dan 1% rhesus negatif, namun juga menjadi penerima sel darah merah secara universal karena adanya antigen A dan B di tubuhnya (menerima dari semua golongan darah dalam kasusku yang ber rhesus positif).  pemilik golongan darah ini juga secara karakteristik umum memiliki pribadi yang pendiam, tenang, rasional, sensitif, mudah berempati namun cenderung pelupa. disebutkan juga bahwa mereka cenderung memiliki resiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, pembekuan darah dan gangguan memori/ fungsi otak.  berkali-kali ku pandangi:  gangguan memori/fungsi otak.  kenapa bisa? kenapa harus begitu? itu menyakitkan dan sangat menohok. ' pantas saja' fikirku berulang.  banyaknya rangkaian kejadian dari yang begitu penting hingga sangat sepele yang tanpa sadar memengaruhi aktivitasku sebagai manusia yang mengharuskan bersosial...
"untuk waktu bagai penyiksaan" untuk waktu bagai penyiksaan entah hukum atau rayuan untuk waktu yang dilewati dengan rumbai air mata bersabar adalah pijakan selain hujatan untuk setiap detail kebijakan yang dianggap remeh mereka bahkan tidak tahu narasi yang sebenarnya untuk setiap argumentasi yang berujung penistaan terkutuklah jiwa-jiwa idealis itu yang berlumur dengki  kenestapaan   bandung, 21/03/2023

12 - 24

  24 hanyalah angka 24 hanyalah awal setidaknya, mantra itulah yang terus kuucapkan; entah itu bujukan penenang ataukah memang obat penenang? namun, berangkat dari pola pikir yang sederhana namun ego yang digendongnya ini cukup memberatkan setiap keputusan yang akan diambil.  sahabat yang telah menemukan belahan jiwanya, menyambut jiwa baru, merawat yang baru bertumbuh, yang menghadapi mimpi buruknya, yang bertumbuh, dengan singgasananya, kami dengan finansial unstablenya, hingga mereka yang tua renta itu dengan keteternya. tidak termasuk dengan mereka-mereka yang lainnya. perasaan berdebar yang membawa gelombang aneh: lelah, dinantikan namun juga takut.  24 hanyalah angka masih banyak yang masih merangkak, meski banyak yang sudah di puncak. namun, tidak berarti juga sebuah keterlambatan, hambatan maupun ajang perlombaan. 24 hanyalah angka angka yang menjadi pecutan kestabilan berpikir yang memang seharusnya sebelum 24 itu terukir. ckrng, 4-11-2025